Tentang Menyaksikan Orang Tua Menua: Catatan Seorang Anak Perempuan tentang Uang, Martabat, dan Diam

Sisi peneliti dalam diri saya meraih kerangka teori. Sisi anak perempuan meraih ponsel. Kebanyakan hari, kedua tangan sama-sama kosong.

Ada momen tertentu ketika penelitian berhenti menjadi penelitian dan menjadi sesuatu yang lain. Bagi saya, momen itu terjadi bukan di lapangan, bukan di hadapan data, melainkan di meja makan keluarga, ketika saya menyadari bahwa saya sedang mencatat — secara mental, hampir otomatis — pola pengeluaran orang tua saya.

Apa yang saya lakukan dengan pengetahuan itu? Itulah pertanyaan yang tidak ada dalam kuesioner saya.

Yang tidak bisa dikuantifikasi

Penelitian tentang kesejahteraan finansial lansia mengajarkan saya banyak hal tentang angka. Tentang rasio aset terhadap utang, tentang "kejutan kesehatan" sebagai penyebab utama kemiskinan di usia lanjut, tentang bagaimana perempuan — terutama janda — adalah kelompok yang paling rentan. Semua ini penting. Semua ini nyata.

Tetapi ada dimensi lain yang tidak mudah dikuantifikasi: dimensi martabat. Cara seorang ayah menolak memberitahu anaknya berapa banyak uang yang tersisa di tabungannya. Cara seorang ibu menyembunyikan tagihan dari anggota keluarga lain. Diam yang bukan ketidakjujuran, melainkan perlindungan diri satu-satunya yang masih tersisa.

Apa yang diajarkan jarak

Saya tinggal jauh dari orang tua. Ini adalah kenyataan yang dihadapi jutaan anak muda Indonesia yang pindah ke kota atau ke luar negeri untuk bekerja atau belajar. Jarak menciptakan kekosongan informasi yang diisi oleh asumsi — bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa mereka akan bilang kalau tidak.

Dalam literatur, ini disebut "information asymmetry dalam konteks keluarga." Dalam kehidupan nyata, ini rasanya seperti telepon yang berdering tanpa dijawab, atau percakapan yang selalu berakhir dengan "kamu jangan khawatir."

Apa yang saya belum tahu cara melakukannya

Saya belum tahu cara berbicara tentang uang dengan orang tua saya tanpa membuat mereka merasa diaudit. Saya belum tahu cara menawarkan bantuan tanpa menyentuh martabat mereka. Saya belum tahu di mana batas antara kepedulian dan kontrol.

Ini tidak ada di bab mana pun dari disertasi saya. Tapi ini adalah pertanyaan yang paling sering saya bawa pulang.